Obat Darah Tinggi: Mengapa Dokter Salah Memilih?

Advertisement

MENGAPA dokter salah memilih obat darah tinggi untuk saya? Peristiwa ini pernah saya alami dua kali dengan dokter yang berbeda. Lalu, apa efeknya? Berdampak burukkah itu?

Ya, saya sadari. Bagi seorang dokter, memilihkan obat untuk pasiennya bukan persoalan mudah. Dokter pun terkadang memberikan pilihan obat yang tidak tepat, termasuk dalam pemberian obat hipertensi.

Saya pernah punya pengalaman dua kali mendapatkan obat darah tinggi dari resep dokter, tetapi justru membuat saya menderita. Kok bisa ?

Ya, ceritanya begini. Tiga tahun lalu sepulang dari naik haji, tekanan darah saya naik. Penyebabnya adalah saya makan opor ayam dengan kuah santan kelapa.

Sebenarnya, saya sudah menghindari opor dengan kuah santan kelapa karena beberapa kali darah tinggi naik sepulang dari merayakan Idul Fitri di rumah orang tua.

Di tempat orang tua, saya disiapkan masakan khas lebaran berupa lotong opor. Salah satu bahannya adalah santan kelapa.

Sepulang dari rumah orang tua, biasanya saya jatuh sakit akibat tensi darah naik.

Akhirnya, pada hari lebaran tahun 2012 lalu, saya makan opor ayam tanpa kuah santan kelapa. Saya hanya makan lotong dengan lauk daging ayam.

Apa yang terjadi?

Tekanan darah saya tidak naik dan saya tetap sehat. Tidak seperti beberapa kali hari raya sebelumnya, yakni jatuh sakit sepulang dari rumah orang tua karena tensi darah saya melonjak naik.

Tetapi, namanya manusia. Terkadang lalai dan suka “sembrono”. Saat istri mengundang kelompok pengajian dengan sajian lontong opor, saya ikut menikmati.

Akibatnya, saya kembali jatuh sakit. Tensi saya naik dan kepala pusing tujuh keliling.

obat darah tinggi

(sumber:obathipertensi.info)

Berapa kenaikan tensi saya?

Ya, tensi saya ketika itu adalah 175/100. Saya periksa dokter di rumah sakit sekitar pukul 00.25.

Tengah malam?

Ya, karena istri saya mendesak agar saya segera periksa dokter supaya tensi darah saya segera turun dan saya sehat kembali.

Oleh dokter rumah sakit, akhirnya saya diberi resep untuk membeli obat darah tinggi. Ada dua jenis tablet yang harus saya konsumsi.

Satu Minggu Minum Obat Darah Tinggi, Kepala Masih Pusing

Salah satu obat darah tinggi yang diberikan oleh dokter adalah obat penurun tensi 5 mg yang harus diminum satu-satu tiap hari. Satunya lagi harus diminum separo tiap hari.

Tetapi, setelah minum obat hipertensi itu selama satu minggu, saya tetap masih merasa pusing. Bahkan, kadangkala kepala terasa sangat berat dan badan tidak stabil (gemetar = ndhredhek: bhs Jawa).

Pernah juga ingin pingsan saat saya berada di kamar mandi. Saya langsung duduk di lantai kamar mandi karena khawatir jatuh pingsan dan kepala membentur tembok kolam.

Beberapa berita menyebutkan penderita darah tinggi meninggal setelah jatuh di kamar mandi.

Merasakan ada sesuatu yang agak ganjil karena proses penyembuhan tidak berjalan lancar seperti biasanya, saya datang ke dokter langganan di poliklinik.

Saya kemukakan apa yang saya alami, sekaligus saya tunjukkan obat tekanan darah tinggi yang saya konsumsi hasil periksa di rumah sakit.

Oleh dokter langganan, saya diminta untuk mengonsumsi satu tablet saja. Yang satunya supaya ditinggalkan, yaitu tablet yang harus saya minum separo per hari.

Dua hari kemudian, badan saya mulai merasa segar. Rasa pusing kepala pun mulai menghilang. Saat cek penyakit hipertensi  beberapa hari kemudian, saya pun dinyatakan sehat kembali.

obat hipertensi

tersedia banyak obat hipertensi murah di apotek (sumber:siapapunsehat.blogspot.com)

Saya mulai bisa melakukan aktivitas keseharian saya. Tidak lagi harus selalu tiduran di kamar tidur akibat sakit darah tinggi.

Pengalaman Salah Obat Terulang dengan Dokter Lain

Pengalaman serupa terulang lagi satu setengah tahun kemudian. Tetapi, dengan dokter lain.

Ceritanya, saya kembali melakukan perbuatan ceroboh. Dalam suatu acara ulang tahun sebuah yayasan, saya ikut makan-makan bersama. Sajian makanan adalah nasi opor ayam.

Sesungguhnya, saya hanya mengambil dua potong daging ayam opor tanpa mengambil kuahnya.

Tetapi, apa yang terjadi?

Hari berikutnya tensi darah saya naik tinggi. Saya merasa kepala sakit dan badan tak sehat.

Kebetulan tempat praktek dokter BPJS saya dekat rumah. Tadinya, praktek dokter BPJS agak jauh dari rumah. Anak menantu saya mengajukan pindah dokter dan dikabulkan.

Ketika tensi darah naik, saya biasanya membeli obat darah tinggi yang biasa saya minum di apotek. Saya jarang periksa dokter karena obat yang didapat juga sama.

Tetapi, karena tempat praktek dokter yang baru dekat rumah, saya mencoba datang ke dokter.

“Ah, dekat saja. Lebih baik saya periksa dokter sekaligus sebelum mengambil obatnya,” kata saya dalam hati.

Apotek di mana saya biasa membeli obat berada di samping tempat praktek dokter yang baru.

Setelah tensi darah dicek dengan hasil 175/100, dokter (senior) memberi saya dua jenis obat darah tinggi. Yang satu adalah obat yang biasa saya konsumsi. Cuma berukuran 10 mg, bukan 5 mg seperti sering saya konsumsi.

Saya telah bilang kepada dokter bahwa biasanya saya minum tablet berukuran 5 mg.

Apa jawab dokter?

“Tidak apa-apa. Biar cepat sembuh”, katanya.

Saat itu saya diberi dua tablet. Satunya lagi diminum separo-separo. Tiap hari harus meminum tablet sekali.

Sama seperti yang terjadi dengan pemberian obat dari dokter di rumah sakit seperti yang saya ceritakan di atas.

Setelah satu minggu kesehatan saya masih belum membaik, saya pun berpikir, jangan-jangan dosis obatnya over. Setelah berbincang dengan istri, akhirnya saya tinggalkan konsumsi tablet separo sehari.

Ya, betul juga. Kesehatan saya mulai membaik. Tetapi, ketika beberapa hari kemudian belum sembuh juga, saya berpikir ada kumungkinan tablet satunya juga perlu dikurangi dosisnya.

Lalu, saya minum separo-separo. Saya anggap dengan cara itu, saya minum tablet 5 mg perhari. Bukan satu tablet 10 mg perhari.

Apa yang terjadi?

Saya merasakan fisik saya telah sehat kembali. Sisa obat tekanan darah tinggi dari resep dokter tetap saya minum dengan ukuran versi saya. Yaitu, satu tablet 5 mg per hari.

Selain itu, saya juga tetap melakukan diet hipertensi. Yaitu, menghindari makanan yang potensial untuk meningkatkan tensi darah saya. Diet sangat efektif untuk menurunkan atau menstabilkan darah tinggi.

jalan kakimeningkatkan daya tahan fisik dengan lari pagi (sumber:lifestyle.okezone.com)

Dokter Salah Mengidentifikasi Daya Tahan Fisik Saya

Saya menilai dokter tidak salah dengan obat tekanan darah tinggi yang diberikan. Cuma, dokter kurang mendalami tentang daya tahan tubuh saya yang tidak mampu menerima asupan obat hipertensi seperti dia resepkan.

Ya, itu persepsi saya. Saya tak tahu cara itu salah atau betul. Tetapi, saya berpendapat bahwa yang lebih tahu tentang diri saya adalah saya.

Baca Juga: 17 Gejala Penyakit Stroke Ringan dan Berat…

Dokter adalah orang luar yang mengerti tentang diri saya setelah tanya-tanya kepada saya.

Dia hanya ahli dari segi medisnya. Apa yang dilakukan adalah berdasarkan keahlian dan ilmu kedokteran yang dimilikinya.

Tetapi, bagaimana aplikasi atau penerapannya?

Tentu, dokter harus melihat kondisi fisik pasiennya. Apa aspek khusus yang harus diperhatikan dari pasiennya.

Itulah sebabnya, sebelum menulis resep, dokter tanya-tanya ke pasien. Cuma karena waktu terbatas, kadang pertanyaan dokter kurang detail. Akibatnya, ya ada pemilihan obat yang kurang pas untuk pasiennya seperti saya alami ketika periksa sakit darah tinggi.

Ya, obatnya betul. Tetapi, dosisnya yang kurang tepat. Ini adalah pengalaman yang patut diperhatikan. Anda sebaiknya juga mengenali sakit Anda dan perlakuan yang tepat untuk menyembuhkannya.

Diet Hipertensi yang Utama, Obat Hipertensi untuk Kondisi Darurat

Dari pengalaman selama 26 tahun mengidap sakit darah tinggi atau hipertensi, saya merasa bahwa pengobatan utama yang diperlukan adalah diet hipertensi dan ditunjang dengan olahraga.

Obat farmasi diperlukan hanya untuk kondisi memaksa (darurat).  Artinya, obat resep dokter ini diperlukan untuk mempercepat penurunan darah tinggi.

Diet diperlukan selain sebagai penunjang konsumsi obat, juga sebagi upaya penurunan tensi secara alami dan aman.

Diet hipertensi terdiri dua jenis. Yaitu (1) diet rendah garam dan (2) diet tinggi kalium.

Diet rendah garam artinya mengurangi konsumsi garam atau makanan atau minuman yang mengandung banyak garam.

Contoh makanan dan minuman yang mengandung banyak garam seperti ditulis oleh hellosehat.com adalah:

1. Sereal instan.

Sebelum Anda konsumsi, makanan ini telah diproses sebelumnya dengan menggunakan bahan pengawet natrium. Satu gelas sereal mengandung lebih dari 200 mg. Biskuit dan pancake mengandung natrium lebih tinggi, yaitu 800 mg.

sayuran kalengansayuran/buah kalengan (sumber:foodforkids.co.id)

2. Buah dan sayuran kalengan.

Kandungan natriumnya lebih tinggi dibandingkan dengan sereal instan. Satu kaleng sayur atau buah mengandung 1.300 mg. Sementara, wortel segar hanya mengandung 45 mg.

Jika Anda terpaksa akan mengonsumsi buah atau sayuran kalengan, sebaiknya cuci dulu untuk mengurangi natriumnya. Walau tidak bisa menghilangkan hingga 100%.

3. Bumbu masak instan.

Kini hampir semua bumbu masak tersedia bahan jadi. Ibu-ibu tak usah menyiapkan sendiri. Dengan bumbu instan, ibu-ibu tinggal “plung” masukkan bumbu jadi ke tempat memasak.

Ya, praktis sekali. Apalagi, buat ibu-ibu karier. Bumbu masak jadi sangat membantu.

Tetapi, tahukah Anda bahwa bumbu jadi mengandung natrium tinggi yang bisa menyebabkan sakit darah tinggi? Ini yang harus Anda waspadai.

Bagi Anda yang telah menderita darah tinggi, bumbu masak instan bisa membuat tensi darah Anda tetap tinggi. Bumbu instan, misalnya, bumbu nasi goreng, bumbu opor, bumbu rendah, dsb.

4. Produk susu.

Susu dan semua produk yang dibuat dengan bahan baku susu sangat baik untuk kesehatan. Sebab, kandungan kalsium dan vitamin D cukup tinggi.

Tetapi, susu dan berbagai produk dengan bahan baku susu dalam kemasan bisa menjadi bumerang bagi Anda. Sebab, seperti prouk kemasan kaleng lainnya, susu atau produk susu kalengan mengandung natrium tinggi untuk bahan pengawet.

5. Mi instan.

Kandungan natriumnya juga sangat tinggi. Satu kemasan mi instan bisa mengandung natrium 1.500 – 2.300 mg. Padahal sesuai dengan batasn WHO, Anda sehari hanya butuh 2000 mg.

Ini berarti jika sehari mengonsumsi satu kali mi instansi, kebutuhan Anda terhadap kalium sudah terpenuh. Bahkan, berlebih.

Oleh karena itu, jika mengonsumsi makanan dalam kaleng, bacalah labelnya supaya Anda tahu apakah makanan itu sehat untuk Anda. Selain itu, berapa banyak makanan yang bisa Anda konsumsi.

6. Makanan dari laut.

Sesungguhnya makanan dari laut seperti seafood sangat baik untuk kesehatan. Misalnya, bisa menurunkan kolesterol dan darah tinggi. Tetapi, jika Anda mengonsumsi produk seafood kalengan, harus hati-hati. Sebab, kandungan natriumnya juga tinggi.

Misalnya, sarden kaleng, tuna kaleng, kerang dan udang. Kandungan natriumnya tinggi. Empat udang mengandung 200 mg, ikan tuna kalengan 300 mg untuk ikan tuna 85 gram.

Anda sebaiknya mengganti dengan ikan segar dan rendah natrium. Contohnya ikan tuna segar, salmon, kakap, dsb.

7. Aneka gorengan.

Ya, sebaiknya Anda menghindari mengonsumsi aneka gorengan. Misalnya, tahu goreng, tempe goreng, ayam goreng, ikan goreng, dsb.

Diet Tinggi Kalium dengan Memperbanyak Makan Sayur dan Buah

Diet tinggi kalium bisa Anda lakukan dengan memperbanyak makan buah dan sayur. Anda perlu mengonsumsi buah jeruk atau pisang ambon sehari satu kali karena kandungan kaliumnya tinggi.

Jika konsumsi garam berlebihan, maka daya serap tubuh pada air juga berlebihan. Ini membuat ginjal mengeluarkan kalium sehingga jumlah kalium berkurang. Ini yang akhirnya membuat seseorang terkena hipertensi atau sakit darah tinggi.

Nah, apa saja makanan yang mengandung banyak kalium?

Antara lain buah jeruk. Tak hanya menurunkan darah tinggi, jeruk juga sangat baik untuk kesehatan jantung.

Kentang, alpukat, bayam, pisang, ikan salmon, jamur, dan buah bit termasuk buah dan sayuran dengan kalium tinggi. Anda selayaknya selalu mengonsumsi buah dengan kalium tinggi untuk menurunkan darah tinggi atau mencegah darah tinggi.

Ditambah olahraga seperti senam, lari pagi, jalan kaki, bersepeda, jogging, dsb, usaha menurunkan darah tinggi akan berjalan cepat. Anda pun kembali sehat dengan tensi darah normal.

Itulah cara yang terbaik untuk mengobati darah tinggi. Obat darah tinggi sangat diperlukan, terlebih saat tensi darah Anda sangat tinggi atau lebih dari 140/90 mmHg.

Lakukan cek tensi darah supaya Anda benar-benar bisa membuat tekanan darah Anda normal, yaitu 120/90 mmHg. Anda terbebas dari stroke dan sakit jantung.

Demikian sajian dari sehatfisik.com tentang obat darah tinggi dan semoga Anda selalu sehat.

Advertisement